Kenangan TELKOMSEL Menaklukan Jakarta 1996

NB: Di awal berdirinya Telkomsel ada 2 anggota ILUNI FTUI sebagai BOD Telkomsel: Garuda Sugardo L’70 dan Ardhin Ichwan L’72. Ada juga Hulman Sidjabat dari FEUI.

(Tulisan ini didedikasikan untuk para Patriot Telkomsel yang telah meninggalkan kita)

Pasca lebaran kemarin, saya menerima undangan Perayaan HUT Telkomsel ke-23 (26/5/2018). Karena alasan bulan Ramadhan, prosesi perayaannya baru akan diselenggarakan tepat seminggu lagi, 9 Juli 2018 malam, di suatu hotel di bilangan Pacific Place Jakarta. Mudah-mudahan para founding fathers akan menyempatkan diri hadir di sana.

Bagi saya 23 tahun yang lalu serasa baru melintas kemarin. Bermula dari Pilot Project GSM PT Telkom di Batam dan Bintan yang mengudara pada 31 Desember 1993, kenangan saya yang abadi adalah bahwa Telkomsel GSM mampu membungkam sinyal seluler dari Singapura yang menginvasi Batam dan Bintan. Ironinya (1) sejak tahun 2002, justru SingTel menguasai 35% saham PT Telkomsel.

Selaku pemilik Telkomsel GSM, tahun 1975 Telkom berbaik hati berbagi mendukung Indosat yang akan go public di Bursa Saham New York. Konsekuensinya, pada saat PT Telkomsel didirikan pada 26 Mei 1995, pemegang saham usahanya menjadi: Telkom 51% dan Indosat (BUMN) 49%. Pengorbanan Telkom kemudian menjadi pengorbanan bangsa. Sejak tahun 2001 Indosat secara bertahap sahamnya dilego ke pihak asing; dan saat ini Indosat bukan lagi BUMN tetapi telah beralih menjadi milik investor asing, Ooreedoo Qatar.
Sungguh, ironi! (2).

Bila saja 23 tahun yang lalu, kita bisa meramal balada ini bakal terjadi, rasanya tidak nanti Telkom akan memberikan separuh saham PT Telkomsel ke Indosat. Buat saya, secercah legacy yang tersisa adalah ketika ditempatkan pemerintah bertugas di Indosat (BUMN). Tahun 2000 saya turut melahirkan dan bahkan memberi nama untuk seluler IM3, andalan bisnis Ooreedo di Indonesia saat ini.

Peristiwa heroik Telkomsel di medan laga adalah kisah tentang penggelaran coverage nasionalnya. Suasana saat rezim Soeharto sungguh merupakan kombinasi antara superioritas penguasa dan pengusaha. Kendati tidak tertulis, di tahun 1995 publik amat mengerti bahwa Jakarta adalah forbidden city untuk Telkomsel mengoperasikan jaringannya di ibu kota. Ada Satelindo GSM milik keluarga Cendana yang mulai mengudara di sana. Mereka amat berkuasa, berpengaruh kuat dan memonopoli pasar secara leluasa.

Meniru strategi perang ala Jenderal Van Dien Dung yang menaklukkan Saigon di tahun 1975, pilihan saya adalah melakukan pengepungan. Diperlukan stamina dan tekad yang kuat untuk menjalankan perang gerilya ala Jenderal Besar Sudirman. Telkomsel membangun mulai dari Batam dan kemudian menebar sinyal ke Pekanbaru Riau, Medan Sumut, Denpasar Bali, Mataram NTB, Bandung Jabar, Padang Sumbar, Surabaya Jatim, Semarang Jateng, Palembang Sumsel, Bandar Lampung, dan Banda Aceh.
Sebagai komandan lapangan, saya kukuh menyiapkan pasukan infantri ranger dan zeni Telkomsel untuk membangun seluruh provinsi, sambil mengepung DKI, sampai kondisi memungkinkan menerobos masuk Jakarta.

Tanggal 25 Mei 1996 saya berada di Banda Aceh. Suasana kota amat meriah menyambut HUT provinsi DI Aceh yang ke-37. Bertempat di Hotel Kuala Tripa, Gubernur Aceh hadir meresmikan siaran RCTI di kota Banda Aceh dan sekaligus pencanangan beroperasinya Telkomsel di sana. Acara berlangsung semarak. Kehadiran Telkomsel di Banda Aceh yang sangat menggembirakan masyarakat pun ikut disiarkan RCTI. Sore harinya saya terbang kembali ke Jakarta untuk memperingati HUT pertama Tekomsel, besok paginya.

Di dalam pesawat, rentak magis tari Saman dan Seudati amat menggugah kalbu dan nurani saya. Sejuknya udara dalam kabin pesawat terasa meniupkan sesuatu di antara sadar dan lena. Ada bisikan, “Jangan takut, nyalakan Jakarta. Hidupkan BTS Telkomsel Jakarta!”
Inilah adrenalin kiriman malaikat yang menjadikan saya yakin dan amat bersemangat.

Sabtu malam itu saya sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Begitu mendarat saya minta GM Telkomsel Jakarta, untuk mengumpulkan semua tim lapangan. Dari Kantor Telkomsel Jakarta di Gedung Panataran, saya berikan komando tempur agar semua BTS Jakarta mulai pukul 00.00 dipancarkan menggetarkan angkasa raya. “Bismillahirrahmanirrahim, jangan ragu. Go on air!” perintah saya kepada engineer Stadlemann ex Siemens dan Herfini Haryono ex Motorola (sekarang Direktur Indosat).

Tanggal 26 Mei 1996 adalah HUT Telkomsel yang pertama. Pada hari itu sinyal kemerdekaan Telkomsel gagah perkasa nampol di langit Ibukota Negara. Pagi itu adalah hari Minggu yang sungguh bersejarah. Hadiah ulang tahun yang terindah sepanjang masa bagi seluruh karyawan Telkomsel. Setelah melakukan pelbagai manuver pengepungan selama 52 minggu dan berputar mengitari 11 provinsi, akhirnya pasukan kartuHalo Telkomsel benar-benar menaklukkan Jakarta! Inilah perang seluler yang saya sebut sebagai “strategi obat nyamuk” di mana api membakar mulai dari ujung pinggir kemudian berputar dan berakhir di tengah.

Jakarta gempar dan kompetitor terperangah. Bagaimana mungkin Telkomsel yang diembargo di Jakarta Area dalam sekejap mampu mengoperasikan jaringan dengan coverage dan kualitas sinyal yang setara dengan kompetitornya. Rahasianya? Bagi Telkomsel, “larangan” yang tidak direstui penguasa adalah mengoperasikan jaringan, namun kegiatan konstruksi dan instalasi sejak beberapa bulan terus berjalan secara incognito dan silent. Rahasia kedua adalah siap, sedia dan berani.

Setelah mengokupasi Jakarta, penggelaran jaringan dilanjutkan di seluruh provinsi yang tersisa. Akhir tahun 1996, kenyataannya Telkomsel telah mengudara di seluruh provinsi Indonesia dan dari Sabang sampai Merauke. Prestasi yang luar biasa, namun ironinya(3) sampai saat ini tidak satu operator seluler lain pun mampu manyamai coverage Nusantara Telkomsel.

Selamat merayakan (belated) Ulang Tahun ke-23 Telkomsel. Teruskan api dan semangat perjuangan.

Beranilah bertarung, bersaing dan bersanding dengan mental pemenang. Mari membangun negeri bersama-sama, bagi kejayaan dan gemilang Indonesia!

Salam Indonesia, Garuda Sugardo (penyintas dan penulis buku Telkomsel in First Era).

 

Sumber: tulisan diambil dari Group Iluni FT UI oleh Bapak Garuda Sugardo (L’70)