Sejarah Fakultas Teknik UI

Sejarah Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Rangkuman Catatan Tercecer dari Salemba

Embrio Kelahiran FTUI

Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik di Bandung yang namanya kemudian diubah menjadi Fakultas Teknik – yang sejak tahun 1950 dikelola oleh Universitas Indonesia, diserahkan kepada Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dibuka tahun 1959. Pimpinan Universitas Indonesia merasa sangat kehilangan dan merasakan kebutuhan untuk mendirikan pendidikan teknik tinggi di lingkungan Universitas Indonesia di Jakarta.
Lima tahun setelah penyerahan Fakultas Teknik kepada ITB, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengadakan Kongres ke-8 pada tahun 1964. Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia yaitu :

  • Ir. Slamet Bratanata,
  • Ir. Sutami dan
  • Ir. Kuntoadji

mengusulkan untuk mendirikan Fakultas Teknik di Jakarta.
Ide untuk mendirikan Fakultas Teknik di Jakarta berasal dari Ir. Sutami, yang sekitar awal Maret 1963 memberikan kuliah Kapita Selekta di jurusan Arsitektur ITB didampingi oleh Dipl. Ing Sujudi Wijoatmodjo, Ir. A.M. Luthfi (asisten pak Sutami di jurusan Sipil) dan Diyan Sigit (Arsitektur ITB). Seusai kuliah Kapita Selekta, di zaal (ruang gambar) jurusan arsitektur ITB, Ir. Sutami mengutarakan pemikirannya untuk mendirikan fakultas teknik di Jakarta, dengan dalih kota Jakarta memiliki begitu banyak insinyur, tetapi belum mempunyai fakultas teknik negeri. Lebih lanjut dikatakan bahwa ide tersebut akan dibawa ke rapat PII (Persatuan Insinyur Indonesia) Pusat yang saat itu diketuai oleh Ir. Bratanata.
Pengurus PII menghadap Presiden untuk menyampaikan usul mendirikan Fakultas Teknik yang telah digodok dalam kongres PII. Presiden Soekarno yang juga seorang Insinyur, menerima baik usul tersebut dan sekaligus menunjuk Prof. Roosseno Soerjohadikoesoemo sebagai Dekan pertama Fakultas Teknik dibawah naungan Universitas Indonesia.
Prof. Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Dekan Pertama FTUI

Periode Awal FTUI[1]
Sebagai realisasi dari persetujuan Bung Karno tersebut dikeluarkanlah Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 76 Tahun 1964 tanggal 17 Juli 1964 tentang Pendirian Fakultas Teknik di Jakarta. Fakultas Teknik di Jakarta tersebut merupakan Fakultas Teknik kedua yang pernah dimiliki Universitas Indonesia.
Untuk membantu kegiatan Dekan, Ir Sutami ditunjuk sebagai Pembantu Dekan I (bidang Akademis) sementara Pembantu Dekan II (bidang Administrasi dan Keuangan) ditunjuk Ir. Bratanata dan Pembantu Dekan III (bidang Kemahasiswaan) dipercayakan kepada Dr. Ing. Purnomosidhi Hadjisarosa.
Di tahap ini secara legal dan formal pendirian fakultas teknik ini sudah selesai, namun secara de-facto belum memiliki aset apapun. Dr. Sjarif Thajeb sebagai Rektor UI mengatakan bahwa UI tidak punya lahan dan fasilitas ekstra yang dapat digunakan oleh fakultas yang baru didirikan ini. Sehingga dengan demikian, persoalan pembangunan gedung fakultas teknik diserahkan kepada para insinyur muda yang dikomandoi oleh Ir. Sutami.

Pada tahun 1964 itu juga, Prof. Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo membangun Kampus FTUI di atas tanah milik Perusahaan Djawatan Kereta Api di jalan Salemba Raya No. 4, Jakarta. FTUI yang terletak di belakang Pegadaian, berbatasan dengan Pasar Kenari. Saat itu Prof. Roosseno tengah menangani proyek pembangunan gedung Badan Perencana Urusan Pangan atau BPUP (sekarang Badan Urusan Logistik atau Bulog). Bedeng proyek gedung itu, yang didirikan di jalan Salemba Raya No. 4, tidak dibangun seperti bedeng pada umumnya. Ir. Sunaryo telah merancang bedeng tersebut sedemikian rupa, sehingga setelah proyek itu selesai, bedeng tersebut dapat dimanfaatkan untuk gedung Fakultas Teknik. Bedeng tersebut dibangun dalam dua bentuk, yaitu yang pertama, bahannya menggunakan bata dengan dinding gedek dengan ukuran 4 x 4 m2 sebanyak 2 buah, untuk ruang pimpinan, dan bentuk kedua, setengah dindingnya menggunakan kawat ayam, digunakan untuk keperluan kuliah, dengan ukuran 8 x 12 m2 sebanyak dua buah, dan satu ruangan berukuran 10 x 20 m2. Di samping ruang pimpinan dan ruang kuliah, juga ada ruang administrasi dan rumah jaga.

Biaya pembangunan Kampus FTUI yang menyita waktu kurang lebih tiga setengah bulan diperoleh dari proyek BPUP, dikerjakan oleh tukang-tukang yang dibantu oleh para mahasiswa FTUI yang tengah mengikuti masa perpeloncoan mahasiswa. Mereka antara lain diperbantukan mengangkat material untuk keperluan pembangunan bedeng tersebut. Dalam konteks ini ada satu nama yang perlu diapresiasi tinggi karena peranannya yang besar semasa pembangunan gedung FTUI, yaitu pak Tado. Seperti diakui sendiri oleh Diyan Sigit maupun tokoh-tokoh mahasiswa angkatan 64, dedikasi dan jasa almarhum pak Tado begitu besar terhadap FTUI.

Mahasiswa angkatan pertama (tahun 1964) terdaftar 201 orang (kemudian 2 orang mahasiswa mengundurkan diri) untuk 3 jurusan, yaitu Sipil (99 mahasiswa), Mesin (50 mahasiswa) dan Listrik (50 mahasiswa). Kegiatan pendidikan di Fakultas Teknik dengan 32 mata kuliah dipercayakan kepada seorang dosen tetap, yatu Ir. Diyan Sigit, dan 29 orang dosen tidak tetap serta 11 tenaga non-akademis. Pada tahun 1966 Ir. Frits Bernhard Mewengkang diangkat menjadi dosen tetap kedua di FTUI.

Yang menarik untuk dicatat disini, peresmian penerimaan mahasiswa baru FTUI dilakukan oleh Presiden Soekarno di Istana Negara pada tanggal 10 Oktober 1964. Sedangkan kuliah perdana dimulai pada tanggal 17 Oktober 1964, sementara bedeng FTUI diresmikan pada tanggal 27 November 1964.

Mengingat kesibukan pimpinan fakultas yang dijabat oleh tenaga pengajar tidak tetap pada waktu itu, semua urusan administratif fakultas seperti mencari tenaga pengajar, menyusun kurikulum, dan pengaturan jadwal perkuliahan praktis ditangani Ir. Diyan Sigit. Kurikulum yang disusun Ir. Diyan Sigit adalah kurikulum Fakultas Teknik UI di Bandung yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan keadaan Fakultas Teknik UI di Jakarta pada saat itu. Kegiatan perkuliahan selain diselenggarakan di bedeng jalan Salemba Raya No. 4, juga diselenggarakan di Fakultas.

Pada awalnya Fakultas Teknik hanya memiliki tiga jurusan, yaitu Jurusan Sipil (Ketua: Ir. Sutami); Jurusan Mesin (Ketua: Ir. Achmad Sajoeti) dan Jurusan Listrik (Ketua: Ir. K. Hadinoto), dengan memanfaatkan para insinyur yang tengah menggarap proyek gedung Conference of the New Emerging Forces(Conefo), sekarang gedung Dewan Perwakilan Rakyat yang direkrut sebagai tenaga pengajar.

Di tahun kedua FTUI (awal 1965), Ir. Diyan Sigit menghadap kepada Rektor (Prof. Soemantri Brodjonegoro) untuk menyampaikan usulan membuka jurusan Arsitektur. Hal ini juga disampaikan pada Ir. Sutami dan Prof. Roosseno. Ketika Dr. Ing Purnomosidhi mendengar ide pembukaan jurusan Arsitektur, ia juga mengusulkan agar dibuka jurusan Metalurgi. Hal ini akhirnya dibicarakan dengan Prof. Soemantri dan Prof. Slamet Iman Santoso.

Pada tahun ajaran 1965 FTUI membuka dua jurusan baru, Jurusan Metalurgi yang diketuai oleh Dr. Ing. Purnomosidhi Hadjisarosa dan Jurusan Arsitektur dengan ketuanya Ir. Sunaryo S. Di tahun pertama tersebut Metalurgi menerima 14 mahasiswa baru, dan Arsitektur menerima 19 mahasiswa. Setelah dua tahun berdiri, Jurusan Metalurgi dirasakan tidak akan dapat berkembang baik, karena Ir. Diyan Sigit merasa kesulitan mencari tenaga pengajar untuk jurusan tersebut.

Jalan keluar yang ditempuh untuk mengatasi masalah di Jurusan Metalurgi adalah mengirim 7 dari 14 mahasiswa Metalurgi ke ITB. Diantara 7 mahasiswa yang dikirim ke Bandung adalah Todung Barita (kemudian menjadi Dekan FTUI periode 1989-1993 dan 1993-1997), yang akhirnya masuk Jurusan Tambang, dengan spesialisasi Metalurgi. Sementara 7 mahasiswa lainnya tetap di Jakarta, antara lain Sutopo dan Bustanul Arifin. Upaya lain yang dilakukan Ir. Diyan Sigit adalah menyelenggarakan perkuliahan dengan sistem paket, yaitu berapa lama dan berapa besar biaya yang diperlukan untuk seorang dosen mengajar dan membimbing mahasiswa sampai lulus.

Di awal tahun 1966 Ir. Bratanata diangkat oleh Bung Karno menjadi Menteri Muda Pembangunan Trans Sumatera dalam Kabinet Dwikora III, sehingga mengundurkan diri dari posisinya sebagai Pembantu Dekan II FTUI. Untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan, Prof. Soemantri Brodjonegoro (Rektor) meminta Ir. Diyan Sigit untuk duduk sebagai Pembantu Dekan II FTUI.

Kesulitan di bidang dana masih terus berlanjut. Bahkan pada tahun 1967, Fakultas Teknik tidak mempunyai kertas untuk ujian mahasiswa sehingga terpaksa meminjam ke Fakultas Ekonomi. Akhirnya Ir. Diyan Sigit mengajak mahasiswa mendatangi Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Demonstrasi mahasiswa ke Bappenas membuahkan hasil dengan dikucurkannya dana yang kemudian digunakan untuk membangun Laboratorium Sipil dan Laboratorium Elektro.

Periode 1971 – 1987
Pada tanggal 27 Februari 1971, FTUI menghasilkan sarjana pertamanya, antara lain I.G.A. Ktut Alit, Widjanarto, Leo Hendrata, F.X. Rulan, Suwondo, Budi Suharto dan Djoko Hartanto (sekarang Prof. Dr. Ir. Djoko Hartanto, M.Sc). Ujiannya dipimpin oleh Prof. Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo. Palu yang digunakan dalam sidang ujian sarjana tersebut gagangnya adalah gagang keris (yang dibeli oleh Ir. Diyan Sigit dari sebuah toko penjual barang antik di jalan Sabang).

Pada tahun 1975, FTUI memperoleh bantuan peralatan laboratorium telekom / elektronika dari PT. Pertamina guna mendukung kegiatan perkuliahan di jurusan listrik (kini, departemen elektro). Serah terima bantuan tersebut dilakukan oleh Direktur Utamanya, Ibnu Sutowo kepada Rektor UI ketika itu, Prof. Dr. Mahar Mardjono bertempat di gedung FTUI Salemba 4.
Serah Terima Sumbangan Laboratorium dari Pertamina kepada FTUI oleh Dirut Pertamina, Ibnu Sutowo pada tanggal 22 Maret 1975.

Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, pada tahun 1976 Fakultas Teknik mendirikan Lembaga Teknologi, yang didukung sepenuhnya oleh para ahli dari setiap Jurusan. Dalam tahun kuliah 1985/1986, Fakultas Teknik membuka Jurusan Teknik Gas dan Petrokimia dengan ketua jurusan Dr. Ir. H. Rachmantio, yang merupakan gabungan dari Program Studi Teknik Gas di Jurusan Metalurgi dan Program Studi Teknik Kimia di Jurusan Mesin.

Dengan dibangunnya kampus baru UI di Depok, maka kampus FTUI pun dipindahkan ke Depok. Penggunaan gedung FTUI di kampus Depok dimulai pada tanggal 16 Agustus 1987, lebih awal dari peresmian kampus UI Depok oleh Presiden Soeharto pada 5 September 1987. Fakultas Teknik dirancang oleh Lembaga Teknologi FTUI dengan Triatno Yudoharyoko sebagai perancang utamanya. Gedung Dekanat FTUI dibangun berputar 450 terhadap koordinat mata angin. Gedung ini terletak di halaman depan fakultas. Dalam posisi ini, Dekanat yang terdiri atas dua lantai ini menuntun koridor yang bercabang dua fasilitas bersama dalam arah utara selatan mengapit sumbu utama yang berisi fasilitas bersama dalam arah utara selatan mengikat bangunan-bangunan jurusan.

Gedung administrasi jurusan yang berlantai dua berbentuk memusat sama dengan Dekanat, dan fasilitas instruksional empat lantai yang mendampinginya berbentuk memanjang. Dua koridor utama mengapit gedung ruang kuliah bersama dengan perpustakaan di lantai dua dan auditorium di lantai tiga. Bangunan ini merupakan bangunan bergugus terbesar dalam kompleks FTUI. Seluruh sumbu tengah ini diakhiri dengan bangunan kemahasiswaan dan kantin fakultas. Dengan susunan demikian FTUI ingin menyampaikan kesan adanya suatu sistem penataan yang berurut bagaikan disiplin teknik yang serba terukur.

Dalam tahap pertama pembangunan kampus FTUI, baru ada enam jurusan. Pada tahun 1988 dibangun lagi satu gedung sumbangan dari orangtua mahasiswa FTUI (BP3 FTUI) yang terletak di luar garis koridor. Gedung tersebut tidak termasuk dalam rancangan Triatno, melainkan suatu hasil rekaan dari pimpinan fakultas pada waktu itu (Ir. Indradjid Soebardjo). Ketika Prof. Dr. Djoko Hartanto, memimpin FTUI, digagas satu gedung perpustakaan yang sekaligus berfungsi untuk menampung dan memberikan informasi tentang keteknikan kepada masyarakat. Rancangan dan bentuk bangunan disayembarakan, dengan juri yang terdiri dari Diyan Sigit, Suwondo, John Holond (USA), dan Gunawan Tjahjono. Sayembara dimenangkan oleh tim arsitek: Rika Syukri, Mei Mumpuni, dan Rida Sjobana. Bangunan perpustakaan tersebut terletak di sebelah timur, di dekat Jurusan Arsitektur, terdiri dari dua gugus yang sedikit melengkung ke arah timur.[2]

Maka sejak saat itu seluruh kegiatan akademik Fakultas Teknik Universitas Indonesia diselenggarakan di kampus Depok. Pada tahun 1999 FTUI membuka Jurusan Teknik Industri dengan ketua jurusan Ir. M. Dachyar, M.Sc. Istilah Jurusan kemudian diganti menjadi Departemen hingga saat ini.

(disusun oleh: Aswil Nazir, diedit oleh Tri Wahyuning M. Irsyam, MSi – akhir Maret 2014)
Aneka ekspresi pak Tjeng (Diyan Sigit) ketika menceritakan sejarah pendirian FTUI.

Footnote:
[1] Lihat Somadikarta, Tri Wahyuning, dan Boen S.Oemarjati. Tahun Emas Universitas Indonesia: Dari Balai ke Universitas.(Jakarta: UI Press, 2002), hlm. 89-94
[2] Gunawan Tjahjono, Emir Hadi Sugarda, Diyan Sigit, Budi Adelar Sukada, Soekarya Somadikarta. Kampus Universitas Indonesia(Jakarta: UI. Press, 2002), hlm. 44-45

Daftar Pustaka:
Buku:
Tjahjono, Gunawan; Sugarda, Emir Hadi; Sigit, Diyan; Sukada Budi Adelar; Somadikarta, Soekarya. Kampus Universitas Indonesia. (Jakarta: UI Press, 2002).
Somadikarta, S; Mudaryanti, Tri Wahyuning; Oemaryati, Boen S. Tahun Emas Universitas Indonesia: Dari Balai ke Universitas.(Jakarta: UI Press, 2002)

Wawancara:
Ir. Diyan Sigit, 82 tahun, alumni ITB, asisten alm. Ir. Sutami, berkarir di Universitas Indonesia sejak awal berdirinya FTUI hingga pensiun. Wawancara dilakukan di kediaman beliau di Jakarta, 23 Desember 2013, 6 Januari 2014, 14 Januari 2014.

Prof. Dr. Djoko Hartanto, jurusan Elektro angkatan 1964, lulusan pertama FTUI. Wawancara di FTUI Depok pada tgl 21 Desember 2013, 27 Desember 2013, 29 Januari 2014.
A Tribute to Diyan Sigit: The Forgotten ManIn “Nostalgia”
Menelusuri Sejarah Lahirnya Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI)In “History”

Google Dilemma

Ordering a Pizza in 2022

CALLER:
Is this Pizza Hut?

GOOGLE:
No sir, it’s Google Pizza.

CALLER:
I must have dialed a wrong number, sorry.

GOOGLE:
No sir, Google bought Pizza Hut last month.

CALLER:
OK. I would like to order a pizza.

GOOGLE:
Do you want your usual, sir?

CALLER:
My usual? You know me?

GOOGLE:
According to our caller ID data sheet, the last 12 times you called you ordered an extra-large pizza with three cheeses, sausage, pepperoni, mushrooms and meatballs on a thick crust.

CALLER:
Super! That’s what I’ll have.

GOOGLE:
May I suggest that this time you order a pizza with ricotta, arugula, sun-dried tomatoes and olives on a whole wheat gluten-free thin crust?

CALLER:
What? I don’t want a vegetarian pizza!

GOOGLE:
Your cholesterol is not good, sir.

CALLER:
How the hell do you know that?

GOOGLE:
Well, we cross-referenced your home phone number with your medical records. We have the result of your blood tests for the last 7 years.

CALLER:
Okay, but I do not want your rotten vegetarian pizza! I already take medication for my cholesterol.

GOOGLE:
Excuse me sir, but you have not taken your medication regularly. According to our database, you purchased only a box of 30 cholesterol tablets once at Lloyds Pharmacy, 4 months ago.

CALLER:
I bought more from another Pharmacy.

GOOGLE:
That doesn’t show on your credit card statement.

CALLER:
I paid in cash.

GOOGLE:
But you did not withdraw enough cash according to your bank statement.

CALLER:
I have other sources of cash.

GOOGLE:
That doesn’t show on your latest tax returns, unless you bought them using an undeclared income source, which is against the law!

CALLER:
WHAT THE HELL!

GOOGLE:
I’m sorry sir, we use such information only with the sole intention of helping you.

CALLER:
Enough already! I’m sick to death of Google, Facebook, Twitter, WhatsApp and all the others. I’m going to an island without the internet, TV, where there is no phone service and no one to watch me or spy on me.

GOOGLE:
I understand sir, but you need to renew your passport first. It expired 6 weeks ago…

Cyber Attacks vs Vulnerabilities

The line graph above shows a correlation between cyber attacks and vulnerabilities over nine years. The vertical axis represents the number of reported cyber attacks and vulnerabilities. The cyber attacks data represent a recorded cyber attack that targeted a vulnerable system. Meanwhile, the vulnerabilities data represent weakness, flaw, or error found within a security system that has the potential to be leveraged by a threat agent to compromise a secure system. The horizontal axis represents the period from 2009 to 2018.

The line graph shows an increasing trend of cyber attacks and vulnerabilities from 2009 to 2018. As can be seen, the cyber attacks and vulnerabilities began with a number less than ten in 2009, and both of them significantly increased and reached the highest number in 2018. Between 2009 to 2012, the number of cyber attacks and vulnerabilities relatively have the same number. Starting from 2012, the number of vulnerabilities has a significantly higher quantity compared to the number of cyber attacks. Another notable data, the number of reported data is also relatively stagnant between 2013 to 2014. It is worthwhile to note that there is a correlation between the number of vulnerabilities and cyber attacks. This finding is reasonable because a hacker needs to exploit system vulnerabilities during a cyber attack. More vulnerabilities potentially can lead to more cyber attacks. Therefore, to minimize potential cyber attacks, the software developer needs to reduce the potential number of vulnerabilities in a system.